Creator Somali and The Forest Spirit Meminta Bantuan Donasi Agar Dapat Melanjutkan Karyanya

Yako Gureishi membuat pengumuman meminta bantuan donasi agar dapat menerbitkan kembali Somali and The Forest Spirit.

Siapa yang tidak tahu anime Somali and The Forest Spirit yang tayang pada 2020 lalu dan sempat heboh di jajarannya? Ternyata dibalik kisah anime fantastis tersebut tentang seorang golem yang ingin menyelamatkan seorang anak gadis seperti anaknya sendiri ini terdapat penderitaan yang dilalui oleh mangakanya.

Hal ini terlihat dengan jelas ketika sang mangaka mengumumkan di akun Twitter miliknya @xxxgreisi tentang permintaan bantuan dana darurat agar dapat melanjutkan karyanya.

Dalam cuitannya tersebut, ia meminta maaf dan menjelaskan situasi daruratnya serta membutuhkan donasi. Dia tidak dapat melanjutkan penutup dari karyanya dengan gambar lebih berwarna karena tidak dapat membayar sewa tempat tingga. Paling sedikit dirinya membutuhkan 5.000 yen dan membuka donasi melalui fanbox di dollaapple.fanbox.cc atau melalui akun Paypalnya.

Pengumuman tersebut membuat salah satu penggemar dengan channel Youtube bernama Yiman penasaran dan melakukan wawancara singkat dengan mangaka tersebut.

Creator Somali and The Forest Spirit Mendapatkan Deadline Kejam dari Publisher

Somali and The Forest Spirit

Dalam wawancara tersebut, Yako Gureishi menceritakan awal mula karyanya terhenti begitu saja dimulai sejak rilisnya anime Somali and The Forest Spirit. Dalam industri ini, normalnya seorang mangaka akan hiatus dan mendapatkan kelonggaran deadline, tetapi pihak publisher, terutama editor dari majalah online yang menerbitkan series tersebut menekannya untuk segera menyelesaikan tokoubon dari series miliknya.

Baca juga  Review Anime Mieruko Chan, Anime Horor dengan sedikit bumbu komedi

Di sisi lain software yang biasa dia gunakan ternyata harus diperbarui dari Comic Studio menjadi Clip Studio. Sedangkan, dirinya belum paham bagaimana cara penggunaan software tersebut. 

Karena penekanan deadline ini, dirinya membutuhkan asisten, tetapi selama proses pembukaan lowongan berlangsung tidak banyak orang yang paham penggunaan Comic Studio yang masih Yako pertahankan sehingga tidak ada yang melamar menjadi asisten dan dirinya tidak dapat menyelesaikan deadline.

Pihak editor publisher merasa kecewa dan malah memberikan reaksi menyalahkan sehingga Yako merasa sangat tertekan dan tidak dapat melanjutkan karyanya. Lalu, pihak publisher menyarankan Yako untuk hiatus sementara.

Pemutusan Series Secara Sepihak oleh Publisher

Somali and The Forest Spirit

Selama hiatus, Yako sempat mendapatkan diagnosis menderita Bipolar Disorder sehingga hiatus memang menjadi pilihan tepat baginya. Bahkan, sebelum hiatus pun dirinya juga telah didiagnosis menderita irritable bowel disorder karena kelelahan bekerja.

Namun, ketika dirinya sudah merasa dapat melanjutkan kembali karyanya, pihak publisher menghubungi hanya untuk memberi kabar, bahwa series Somali and The Forest Spirit tidak dapat dilanjutkan.

Bahkan, Yako sendiri tidak dapat melakukan negosiasi sedangkan dirinya membutuhkan biaya hidup karena selama hiatus ia menggunakan dana simpanan miliknya.

Hal tersebut semakin membuat Yako putus asa. Dirinya juga sangat menyayangkan tindakan publisher tersebut padahal sang mangaka telah mengorbankan banyak waktunya bersama publisher tersebut.

Biaya yang Yako Gureishi Butuhkan Selama Sebulan

Somali and The Forest Spirit

Karena uang simpanannya yang semakin menipis itulah Yako meminta bantuan melalui kanal twitternya. Meski hanya menyebutkan 5.000 yen saja dalam postingan tersebut, ternyata selama wawancara berlangsung sang mangaka memiliki kebutuhan lebih banyak, seperti

  1. Sewa tempat tinggal: 84.000 yen
  2. Listrik dan gas: 10.000 – 29.800 yen
  3. Air: 50.000 yen
  4. Asuransi kesehatan nasional premium: 38.000 yen
  5. Asuransi pensiun nasional premium: 16.800 yen
Baca juga  10 Daftar Devil Terkuat di Anime Chainsaw Man

Total secara keseluruhan lebih dari 200.000 yen dan itu belum termasuk pajak dan pembayaran lainnya setiap bulan. Maka tidak heran jika Yako harus berhemat seperti hanya makan nasi kari dari pemberian fans maupun editornya atau menggambar 5 shikishi setiap bulannya.

Untuk saat ini Yako juga membuka komisi apabila dari para penggemarnya ingin memesan.

Semakin Membuktikan Tidak Sehatnya Industri Kreatif di Jepang

Somali and The Forest Spirit

Dalam kekecewaannya tersebut, Yako menceritakan bagaimana dirinya dan banyak mangaka di Jepang lainnya bekerja di bawah tekanan publisher, apalagi jika mangaka tersebut merupakan pendatang baru. 

Beberapa contoh bukti adanya eksploitasi dalam industri ini berdasarkan wawancara Yiman dengan Yako adalah sebagai berikut.

  1. Ilustrasi Shikishi yang dibuat mangaka untuk toko buku tidak pernah memberikan imbal balik bagi mereka.
  2. Mangaka tidak pernah mendapatkan bayaran dari side story dan pekerjaan tambahan lainnya.
  3. Mangaka tidak pernah mendapatkan bayaran atas dibuatnya cover depan maupun belakang tankoubon (seri yang tamat dalam satu jilid).

Namun, dalam kasus Yako sendiri menjadi lebih parah karena dirinya tidak dilibatkan secara langsung pada serial anime Somali and The Spirit Forest. Hal tersebut terlihat secara nyata ketika dirinya tidak diundang pada pesta perayaan akhir projek anime tersebut. Padahal dirinya ingin berterima kasih secara langsung pada para seiyuu yang telah memberikan kontribusi terbaik mereka.

Selain itu, ketika dirinya ingin mendaftar sebagai ilustrator di tempat lain seringnya ditolak karena masalah umur. 

Yako Gureishi Adalah Mangaka Paling Vokal yang Menyuarakan Ketidakpuasannya

Yako Gureishi, mangaka Somali and The Forest Spirit

Sebagaimana yang kita tahu, budaya Jepang tidak begitu vokal menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap suatu hal seperti pekerjaan. Sehingga tidak heran jika kebanyakan mangaka tidak dapat mengekspresikan kekecewaan mereka apabila merasa tidak cocok dengan editor maupun publisher tempat mereka bernaung. 

Baca juga  4 Alasan Kenapa Kalian Harus Nonton Anime Kimetsu No Yaiba

Bahkan, melayangkan ketidakpuasan atas tekanan yang didapat dari para editor yang mengarahkan “penjualan series agar lebih baik” juga tidak bisa.

Hal tersebut juga terjadi pada Yako ketika di awal umur 20an dirinya mendedikasikan diri terlalu berlebihan untuk series Somali and The Forest Spirit. Bahkan, dengan demand yang terlalu berlebihan dan terkesan meremehkan kemampuannya, Yako merasa tidak apa-apa karena dirinya waktu itu hanya pendatang baru dan membutuhkan banyak pengalaman.

Maka dari itu, budaya tersebut sebenarnya hanya akan membuat pendatang baru mudah untuk dieksploitasi di industri ini. Padahal sebenarnya mangaka dapat hidup lebih baik karena mereka bisa mendapatkan bayaran 20.000 – 30.000 yen untuk satu bagian ilustrasi saja.

Namun, Yako dan kebanyakan pendatang baru lainnya bekerja lebih hanya untuk tidak dibayar. Maka, tidak heran jika Yako memutuskan untuk lebih berani menyuarakan ketidakpuasannya, terutama untuk pekerjaan tambahan yang diberikan. Ia akan selalu bertanya mengenai bayaran untuk pekerjaan tambahan yang diberikan atau meminta perbaikan kontrak kerja pada publisher.

Karena dirinya tidak mau lagi dianaktirikan pada proyeknya sendiri, seperti ketika ilustrasi shikishi pertama miliknya untuk Somali yang malah dibuang atau ketika dirinya tidak mendapatkan sampel nendroid Somali sama sekali.

Lalu, dari aksinya sendiri Yako berharap agar para mangaka lainnya juga mau berjuang untuk diri mereka sendiri.

Inspirasi Karya Somali and The Spirit Forest

Somali and The Spirit Forest

Dalam wawancara tersebut selain menceritakan kisahnya, Yako juga menceritakan tentang asal mula ide pembuatan Somali. Awalnya ia ingin membuat cerita tentang orang dewasa dan anak-anak yang tidak memiliki hubungan, tetapi saling peduli di dunia modern.

Namun, karena trope cerita itu sudah banyak bagi dunia modern, maka editornya menolak sehingga Yako mencoba mengubahnya dalam bentuk genre fantasi. Bahkan, dirinya tidak menyangka jika ternyata akan disukai banyak orang seperti sekarang.

Sehingga ia berharap karyanya dapat menginspirasi lebih banyak orang.

Sumber:

Penulis : Surya IL
Penyunting: Kikitondo

(Visited 17 times, 1 visits today)

Kikitondo

Editor Mobileague dan Penulis spesialisasi artikel VTuber Corner, Penyunting Artikel Umum. Lulusan Penonton Anime, Holofans, tapi suka VTuber secara umum.